Jumat, 28 Desember 2007

AJARAN ZINA DI AL ZAYTUN

Nopember 15, 2007

Yang bertanda tangan dibawah ini kami,
Nama : Marwan Siregar

Alamat : Jl. Pelajar 100 - 027/014 Kel. Teladan Timur Kec. Medan Kota,Sumatera Utara (HP: 0811609321)
Pekerjaan : Anggota Kepolisian RI SATSERSE POLTABES MEDAN
Pangkat : BRIPKA, NRP: 63080231
Status : Kawin / Orang tua Panusunan Siregar.

Nama Istri : Hj. Darma Taksiyah
Pekerjaan : Ikut Suami.Status : Ibu Kandung Panusunan Siregar.
No. KTP : 02.5005.550467.0001Alamat : Ibid.
Nama : Mokhtar Siregar.Alamat : Ibid.No. KTP/SIM : 380507140156Status : Kakek dari Panusunan.
Bersama ini kami mengadukan kepada Bapak KAPOLRI u.p. KAKORSERSE dan KABAG INTEL KAM MABES POLRI sehubungan dengan apa yang telah menimpa kami sekeluarga khususnya anak kami,


Nama : Panusunan Siregar.
Lahir : Medan, 22 November 1988.
Status : Santri Ma had Al-Zaytun, Masuk tahun 2000 Klas I-EA2,menempati asrama Al-Fajar km 323, dan naik kelas II- FA.03 asramaAl-Fajar km. 218 F.
Ditarik kembali tanggal 5 Oktober 2001.

Dengan ini menyatakan kami telah merasa diperlakukan secara semena-mena serta dibohongi dan dirugikan secara moril maupun materiel oleh YPI (Yayasan Pesantren Indonesia) melalui Ma had Al-Zaytun,Haurgeulis, Indramayu Jawa Barat. Mengingat setelah anak saya resmi diterima menjadi santri Ma’had Al-Zaytun yang menurut perjanjian aktenotaris akan dididik, dibina dan dibesarkan serta dipelihara berdasarkan ajaran Islam.

Akan tetapi dalam kenyataan praktek pembinaan dan pembelajaran putra kami Panusunan Siregar tidaklah demikian. Anak kami tersebut tidak dididik, dibina, dibesarkan dan dipelihara sesuai dengan ajaran Islam,tetapi dibiarkan menjadi liar dan mendapat pelajaran liar serta memperoleh perlakuan yang liar dari dewan guru. Hal ini dapat kami paparkan sebagai berikut berdasarkan penuturan putra kami maupun dari apa yang kami alami (pengalaman kami) sendiri.

Pelajaran liar yang diterima anak kami antara lain adalah:
1. Wajib berpacaran pada setiap hari jum at.
2. Berpegangan tangan dan berciuman tidak dilarang, bahkan santri bernama Noris dari Malaysia sempat hamil, namun oleh para uustadz diperintahkan agar digugurkan.
3. Boleh membaca dan memiliki buku bacaan maupun gambar porno. Bisa pesan beli melalui para muwadzhaf (pasukan kuning).
4. Tidak dilarang memasuki asrama atau kamar nisa (santri putri).
5. Tidak diperintahkan mengambil air wudlu setiap hendak shalat,karena dicontohkan oleh para asatidz.
6. Diajak dan diberi contoh oleh asatidz kepada perilaku porno dan jorok, maaf disuruh menghisap kemaluan ustadz yang akhirnya berkelanjutan menjadi perilaku antar para santri.
7. Perkelahian dan tawuran antar kelompok gank.

Diajarkan doktrin NII diantaranya:
1. Presiden Megawati adalah Ratu Balqis yang akan menyerahkan kekuasaannya kepada Nabi Sulaiman yang juga disebut Syaykhul Ma had AS Panji Gumilang.
2. Menyatakan bahwa Syaikh Panji Gumilang adalah Pemimpin yang akan membangkitkan Islam di Indonesia yang terletak di tengah-tengah garis khatulistiwa.
3. Al-Zaytun kelak akan mengganti bendera Merah Putih Republik Indonesia dengan bendera berwarna hijau Negara Islam, dan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam.
4. Di Al-Zaytun akan segera mencetak mata uang sendiri diberlakukannya mata uang logam perak dan emas yang bergambar Panji Gummilang dan lambang Al -Zaytun.
5. Telah ada latihan menembak setiap hari untuk Garda Mahad yang pelaksanaannya di Subang.

Perlakuan liar yang diterima anak kami,

Ketika putra kami melakukan kenakalan (membawa binatang ular kedalam asrama) dikenakan hukuman pukulan, disel (dikurung dalam ruangan tanpa diberi baju maupun alas tidur serta tidak diberi kesempatan atau diajarkan untuk melaksanakan shalat fardlu).
Ketika putra kami telah dan sedang berada di dalam hukuman kurungan tersebut tiba-tiba salah seorang kakak kelasnya melemparkan uang hasil mencuri uang milik temannya, yang pada akhirnya kesalahan ditimpakan kepada putra kami. Dan karena putra kami pun menerima tuduhan tersebut akhirnya putra kami kembali menerima pukulan dari 12 orang anggota dewan guru di ruang 130 hingga anak kami sakit selama satu minggu.


Karena putra kami telah dihukum sekap selama 2 (dua) bulanl antaran tuduhan mencuri akhirnya barang-barang, pakaian dan buku serta perlengkapan sekolah putra kami dirusak entah oleh siapa dan sebagian besarnya raib entah kemana. Kami dapatkan putra kami samasekali tidak memiliki satu helai pakaian pun, sekalipun yang hanya melekat di badannya. Maka selama dua bulan dalam kamar penyekapan tersebut putra kami tidak memakai baju (hanya pakai celana pendek saja), anak kami tidak diberi kesempatan atau diperintahkan mengerjakan shalat apalagi mengikuti kegiatan sekolah maupun yang lainnya.

Putra kami pun pernah sempat dihajar secara fisik dan diancam oleh anggota dewan guru yaitu ustadz yang dikenal paling galak serta dijuluki Malaikat Maut Syaifuddin Ibrahim, setelah putra kami dinyatakan harus diambil kembali oleh orangtuanya dengan membayar denda Rp 15 juta.

Perilaku putra kami menjadi semakin bodoh dan liar

Terhitung sejak 3 bulan setelah tahun awal pembelajaran, putra kami selalu minta kiriman uang, pernah pula meminta kiriman uang sebesar 1 juta dengan alasan untuk membayar hutang. Ternyata setelah didesak putra kami mengatakan, itu karena disuruh oleh ustadz, namun kami tahu hal itu memang sulit untuk membuktikannya.

Meminta dibelikan sepeda, walkman dan macam-macam itu pun karena disuruh oleh ustadznya.

Prestasi dan nilai raportnya pun sangat buruk, bahkan hafalan al-Qur annya cuma 60 ayat.
Kami tidak terima dan kami menuntut. Apa yang terjadi pada putra kami saya yakin juga terjadi pada para santri yang lain, hanya saja mungkin karena para orangtua mereka belum bisa mendengar berbagai kejanggalan serta kejahatan yang berlangsung dalam ma’had Al-Zaytun tersebut.


Kami tidak bisa menerima perlakuan dari para pamong didik yang keras dan sewenang-wenang terhadap anak kami. Apakah kehidupan dan pembinaan pola pesantren modern itu harus dengan hukuman fisik yangberlebihan? Apakah ada padanan pesantren modern yang menerapkan hukuman fisik pukulan ataupun kurungan secara fisik tanpa pakaian dan tidak lagi diajarkan untuk melaksanakan shalat? Anak kami masih terlalu muda (14 tahun) untuk boleh diperlakukan sebagaimana layaknya hukuman ala Prayuana, dengan tanpa melalui sidang pengadilan, malah putra kami divonnis merusak dan mengotori pesantren.

Kami tidak terima karena justru putra kamilah yang telah dirusak mental dan akhlaqnya melalui pornografi dan seks bebas, ajaran NII danbudaya kafir jahiliyyah yang diajarkan dan diterapkan di ma had Al-Zaytun.

Kami menuntut kepada pemerintah, MUI dan para pimpinan ormas maupun orpol agar segera menindak serta mengusut secara tuntas terhadap kebohongan dan kejahatan serta pelanggaran HAM Anak yang sedang berlangsung di mahad sesat Al-Zaytun.

Sikap husnudzhan dan kepercayaan kami yang begitu besar kepada ma had Al-Zaytun telah disalahgunakan, sehingga seluruh wali santri hingga detik ini tidak satupun yang mendapatkan kwitansi serah terima uang titipan seharga seekor sapi, bahkan masih pula dikenakan beaya ini dan itu serta masih banyak lagi infaq maupun shadaqah lainnya.

Kami sebelumnya adalah orangtua yang percaya sepenuhnya kepada ma had Al-Zaytun, bahkan sekalipun telah terbit buku yang menjelek-jelekkan Al Zaytun kami pun tetap percaya dan bertekad tetap mendukung Al-Zaytun. Namun setelah mushibah itu menimpa putra kami sendiri maka kami pun seperti baru tersadarkan dari mimpi-mimpi kami sendiri, apa yang terdapat dalam isi buku Pesantren Al Zaytun Sesat! sepenuhnya sama persis dengan apa yang diterima putra kami dan juga kami sendiri, bahkan yang kami dapatkan dari putra kami lebih dahsyat kesesatannya ketimbang yang ditulis dalam buku oleh Bapak Umar Abduh.

Maka untuk sementara kami bisa menerima kenyataan ini, akan tetapi apabila keberadaan ma had Al-Zaytun tidak mendapatkan tindakan dari pemerintah atau MUI dan masyarakat Islam, kami siap untuk mengambil tindakan sendiri, sebesar apapun resikonya kami siap untuk menghadapi.

Demikianlah surat pengaduan ini kami buat dengan sebenarnya untuk dapat digunakan bagi kepentingan pengusutan maupun keperluanlainnya. Kami siap untuk mempertanggung jawabkan kebenaran isi surat pengaduan ini di muka hukum, untuk itu tandatangan pada surat pengaduan ini kami bubuhi materai secukupnya.

Dibuat, di Jakarta tanggal 8 Oktober 2001.

Ditandatangani oleh:
MARWAN SIREGAR
Hj. DARMA TA SIYAH
H. MOKHTAR SIREGAR


—————————-
Berdasarkan Surat Pengaduan yang dibuat oleh Bapak Marwan Siregar, di
tujukan kepada KAPOLRI cq KABAINTELKAM MABES POLRI. Pengaduan itu juga diberitakan majalah FORUM KEADILAN No 31 - hal 85-86.

Minggu, 23 Desember 2007

Bagaimana Hukum Adsense Di Mata Fiqh?

Sebenarnya bukan ingin berfatwa atau menghukumi. Hanya saja berhubungan dengan makin trend-nya Adsense dalam dunia Online Bisnis, saya berusaha mencari2 argument hukum fiqh-nya, yang nantinya tentu akan menjadi sandaran untuk para publisher adsense.
ok, sekarang bagi semua saudara2 yang mungkin sudah pernah membahas atau mempunyai masukan tentang hal ini bisa share disini.
semoga kita semua selalu mendapat Hidayah dari Allah SWT, Amiin.

Rabu, 05 Desember 2007

Memelihara Janggut Atau Jambang

Hadits-Hadits Yang Mewajibkan Memelihara Janggut Atau Jambang Antara hadith-hadith sahih dari Nabi s.a.w yang menunjukkan wajibnya memelihara janggut dan jambang kemudian mewajibkan orang-orang lelaki beriman supaya memotong atau menipiskan misai mereka serta pengharaman dari mencukur atau memotong janggut mereka ialah:

Abdullah bin Umar berkata : Bersabda Rasulullah s.a.w : Janganlah kamu menyerupai orang-orang Musyrikin, peliharalah janggut kamu dan tipiskanlah misai (kumis) kamu. H/R al Bukhari, Muslim dan al Baihaqi.

Dari Abi Imamah : Bersabda Rasulullah s.a.w : Potonglah misai kamu dan peliharalah janggut kamu, tinggalkan (jangan meniru) Ahl al-Kitab. Hadith sahih, H/R Ahmad dan at Tabrani.

Dari Aisyah berkata : Bersabda Rasulullah s.a.w : Sepuluh perkara dari fitrah (dari sunnah nabi-nabi) di antaranya ialah mencukur misai dan memelihara janggut. H/R Ahmad, Muslim, Abu Daud, at Turmizi, an Nasaii dan Ibn Majah.

Berdzikir

Artikel ini menjelaskan beberapa alasan kenapa kita harus berdzikir kepada Allah. Terlebih lagi bahwa dzikir itu merupakan amalan yang mudah dilakukan. Kemudian pada bagian terakhir, dijelaskan bahwa berdzikir itu harus mengikuti aturan yang digariskan oleh Islam. Tidak boleh membuat - buat aturan yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Berikut beberapa manfaat bisa kita dapatkan dari berdzikir :

Membuat hati menjadi tenang.

Allah berfirman, ”Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’d : 28) Banyak orang yang ketika mendapat kesulitan maka mereka mencari cara–cara yang salah untuk dapat mencapai ketenangan hidup. Diantaranya dengan mendengarkan musik yang diharamkan Allah, meminum khamr atau bir atau obat terlarang lainnya. Mereka berharap agar bisa mendapatkan ketenangan. Yang mereka dapatkan bukanlah ketenangan yang hakiki, tetapi ketenangan yang semu. Karena cara–cara yang mereka tempuh dilarang oleh Allah dan Rasul–Nya. Ingatlah firman Allah Jalla wa ’Ala di atas, sehingga bila kita mendapat musibah atau kesulitan yang membuat hati menjadi gundah, maka ingatlah Allah, insya Allah hati menjadi tenang.

Mendapatkan pengampunan dan pahala yang besar.

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab : 35)

Dengan mengingat Allah, maka Allah akan ingat kepada kita.

Allah berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan)”. (Al Baqarah : 152)

Dzikir itu diperintahkan oleh Allah agar kita berdzikir sebanyak–banyaknya.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla “Hai orang–orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak–banyaknya. Dan bertasbihlah kepada – Nya di waktu pagi dan petang.” (Al Ahzab : 41 – 42)

Banyak menyebut nama Allah akan menjadikan kita beruntung.

“Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Al Anfal : 45) Pada Al Qur’an dan terjemahan cetakan Al Haramain terdapat footnote bahwa menyebut nama Allah sebanyak – banyaknya, maksudnya adalah memperbanyak dzikir dan doa.

Dzikir kepada Allah merupakan pembeda antara orang mukmin dan munafik, karena sifat orang munafik adalah tidak mau berdzikir kepada Allah kecuali hanya sedikit saja.

(Khalid Al Husainan, Aktsaru min Alfi Sunnatin fil Yaum wal Lailah, Daar Balansiyah lin Nasyr wat Tauzi’, Riyadh, Terj. Zaki Rahmawan, Lebih dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan I, Juni 2004 M, hal. 158). Allah berfirman, “Sesungguhnya orang – orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An Nisaa’ : 142) 7.Dzikir merupakan amal ibadah yang paling mudah dilakukan.

Banyak amal ibadah yang sebetulnya mudah untuk kita lakukan. Semisal : - Membaca basmillah ketika akan makan / minum - Membaca doa keluar / masuk kamar mandi - Membaca dzikir – dzikir sewaktu pagi dan petang - Membaca doa keluar / masuk rumah - Membaca doa ketika turun hujan - Membaca dzikir setelah hujan turun - Membaca doa ketika berjalan menuju masjid - Membaca dzikir ketika masuk / keluar masjid - Membaca hamdalah ketika bersin - Membaca dzikir – dzikir ketika akan tidur - Membaca doa ketika bangun tidur Dan lain–lain banyak sekali amalan yang mudah kita lakukan. Bila kita tinggalkan, maka rugilah kita berapa banyak ganjaran yang harusnya kita dapat, tetapi tidak kita peroleh padahal itu mudah untuk diraih. Coba saja hitung berapa banyak kita keluar masuk kamar mandi dalam sehari?

DZIKIR HARUS SESUAI DENGAN ATURAN ISLAM Dzikir adalah perkara ibadah, maka dari itu dzikir harus mengikuti aturan Islam. Ada dzikir – dzikir yang sifatnya mutlak, jadi boleh dibaca kapan saja, dimana saja, dan dalam jumlah berapa saja karena memang tidak perlu dihitung. Tetapi ada juga dzikir – dzikir yang terkait dengan tempat, misal bacaan – bacaan dzikir ketika mengelilingi (thawaf) di Ka’bah. Ada juga dzikir yang terkait dengan waktu, misal bacaan dzikir turun hujan. Juga ada dzikir yang terkait dengan bilangan, misal membaca tasbih, tahmid, dan takbir dengan jumlah tertentu (33 kali) setelah shalat wajib. Tentu tidak boleh ditambah – tambah kecuali ada dalil yang menerangkannya. Kalau seseorang membuat sendiri aturan – aturan dzikir yang tidak diterangkan oleh Islam, maka berarti dia telah membuat jalan yang baru yang tertolak. Karena sesungguhnya jalan – jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah itu telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Patutkah kita menempuh jalan baru selain jalan yang telah diterangkan oleh Rasul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tentu tidak, karena Agama Islam ini telah sempurna.

Kita harus mencukupkan dengan jalan yang telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Referensi :

1.Al Qur’an

2.Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Dzikir Pagi dan Petang dan Sesudah Shalat Fardhu, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Cetakan I, Desember 2004 3.Khalid Al Husainan, Aktsaru min Alfi Sunnatin fil Yaum wal Lailah, Daar Balansiyah lin Nasyr wat Tauzi’, Riyadh, Terj. Zaki Rahmawan, Lebih dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan I, Juni 2004 M

 

Followers